SEBUAH CATATAN UNTUK ANAK MUDA YANG INGIN BERKUASA Oleh: Mansurni Abadi (Adi)


Pengasas Buku Jalanan Indonesia
Aktivis Muhammadiyah Indonesia

Dalam Kecoh Fest kelmarin ada fakta menarik yang saya dapatkan dari kondisi mahasiswa Malaysia saat ini dan fenomena ini pun ada di negara saya. Di sini saya tidak mahu memandang aktivisme mahasiswa Indonesia sebagai contoh ideal bagi aktivisme mahasiswa Malaysia kerana saya mahu aktivisme mahasiswa di negara ini memiliki corak yang berbeza daripada negara jirannya.

Back to phenomena, saya berpikir mahasiswa Malaysia dan Indonesia hari ini sudah terjebak pada apa yang dihujahkan oleh Slavoj Zizek dengan kesadaran sinis – sebuah kondisi di mana kita mengetahui ada suatu kesalahan namun kita memilih untuk tidak bertindak. Hal ni semacam apatisme namun lebih berbahaya dari apatisme karena bezanya jika apatis kita kurang menyadari namun ini kita menyadari namun kita memilih diam.

Kondisi sebegini pun digambarkan oleh Hannah Arrendt dalam bukunya bertajuk “Eichmann in Jerusalem” dengan apa yang disebut sebagai banality of evil, sebuah kondisi ketidakberpikiran karena terjebak oleh ideologi yang sesat.

Biasa kondisi ini tercipta tidaklah semulajadi, ada social engineering di dalamnya. Jika kita lihat pendidikan kita hari ini, semua orang menempatkan anak muda seperti robot yang dibuat hanya untuk bekerja sahaja.

Mengikut kata kaum kiri, hal ini terjadi karena adanya proses manufakturisasi pendidikan atau menjadikan lembaga pendidikan atau universiti macam kilang di mana mahasiswa adalah produk semula jadi yang akan diubah menjadi semacam mesin sahaja.

Di sinilah akhirnya muncul ideologi yang sesat tadi, bagi saya ideologi yang sesat bukanlah kiri ataupun kanan tetapi ideologi yang membuat minda takut dan tidak lagi melawan. Ya, ideologi ketakutan ini akhirnya membuat mahasiswa sebagai kaum intelektual yang gagal melaksanakan perannya sebagai agent of moral, agent of change, dan iron stock (penerus kuasa /kepimpinan).

Untuk melawan ini semua, langkah pertama harus keluar dari ketakutan itu tadi dengan mula menyadari permasalahan yang ada. Proses menyadari masalah ini harus dimulai dengan analisa. Tidak perlulah pelik untuk mulai membuka sembang – sembang yang berkualiti sebagai tahap sederhana dan mulailah untuk membaca.

Lalu kemudian berorganisasilah, karena masalah hanya bisa selesai saat suara-suara kita yang menyadari saling terkoneksi. Di sini solidariti sangat penting tidak hanya antara mahasiswa dalam satu universiti sahaja, namun antara universiti.

Hindari egoisme dan jangan besar kepala sekiranya kamu berasal dari kampus elit. Mulailah memandang yang lain juga dengan kesetaraan dan hindari sentimen perkauman karena solidariti butuh kerjasama banyak pihak tidak kisah kaum apa pun.

Lalu langkah selanjutnya, konsistenlah dengan yang diperjuangkan. Jangan berhenti hanya karena satu kes sudah selesai, karena lawan kita adalah kezaliman maka kita pun harus sadar ini akan mengambil masa yang panjang.

Kezaliman tidak akan hilang dari muka bumi dan akan bertambah pelik dan teruk jika orang baik diam. Mulailah untuk bersuara, dalam islam dijelaskan tugas manusia adalah menjadi rahmat dan untuk menjadi rahmat perlu mengambil peran dalam jalbul mashalih wa dar’ul mafasid (mendatangkan kemaslahatan atau manfaat dan menolak keburukan dan kerosakan) yang berkonsekuensi dalam upaya terus-menerus untuk melindungi agama (hifzhu al-din), melindungi akal (hifzhu al-aql), menjaga harta (hifzhu al-mal), dan menjaga keturunan serta harga diri (hifzhu al-‘irdhi wa al-nasl) .

Dalam agama lain pun mungkin sahaja sama, dalam Kristen menjadi garam dan terang sebagai sabda Injil, “iman dibuktikan dengan perbuatan” dan dalam Hindu dan Buddha pun ada ajaran menebar darma dan menolak adarma (kezaliman) sebagai tugas manusia.

Dan yang terakhir, untuk konsisten, tidak perlulah memasang target yang besar. Mulai dari yang mudah dengan intensitas yang kecil, dan yang paling penting lakukannya secara berperingkat-peringkat. Do all things with rational mind not emotional mind.

Please follow and like us:
error

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

error

Share supaya lebih ramai tahu berita ini