Solidariti Gerakan #Kitajagakita Aktivis Mahasiswa Indonesia Di Malaysia

Selama masa wabak Covid 19, kita selalu tersilap untuk melihat perannya dalam membantu warga tempatan maupun imigran yaitu kelompok mahasiswa tak kisah tempatan atau tidak terutama dari mereka kalangan aktivis.

Peran aktivis mahasiswa bagi saya sangat penting untuk kita ketahui agar masyarakat awam tak hanya melihat mereka sebagai kelompok yang selalu melakukan tindakan politik sahaja tetapi juga memiliki tindakan sosial disaat-saat krisis.

Khas  bagi  aktivis mahasiswa asal luar negara utamanya asal Indonesia , situasi pandemik macam ini ternyata tidak membuat mereka semua harus berdiam diri di dalam bilik sambil meminta-minta bantuan sahaja baik bekalan makanan maupun kepulangan percuma  seperti yang tular di media sosial, ada banyak gerakan positif  mereka buat dalam banyak bentuk mikro-voluntering diluar dari kelompok besar persatuan pelajar  mereka yang bernama perhimpunan pelajar Indonesia (PP).

Seperti yang berlaku pada tanggal 2 Mei silam sekelompok mahasiswa yang tergabung dalam ikatan mahasiswa Muhammadiyah yang duduk di dalam Universiti Islam Antarabangsa Malaysia (UIAM) membantu mahasiswa lainnya yang kurang bekalan makanan dan beberapa aktivis asal kelompok mereka juga ikut membantu dalam pengagihan makanan kepada para pekerja migran Indonesia yang terjejas.

Lalu, ada juga kelompok Gusdurian yang terdiri daripada generasi muda yang melestarikan pemikiran Gus Dur (mantan presiden Indonesia ke-5 dan tokoh perdamaian asal Indonesia) juga ikut mengagihkan makanan kepada para pekerja Indonesia dan bahkan Bangladesh yang terjejas dengan Perintah Kawalan Pergerakan (PKP) di sekitar wilayah Kuala Lumpur

Pada hari khamis 8 Mei 2020 lalu, pertubuhan mahasiswa Nusa Tenggara Barat yang merupakan bahagian penerima biasiswa daerah Nusa Tenggara Barat di Universiti Kebangsaan Malaysia (UKM) juga turut melakukan kegiatan sosial berupa berbagi takjil bagi pekerja bangunan dari Indonesia dan negara lain yang menetap di Jalan Vista Emas, Kajang, Selangor. Pada hari itu mereka berjaya membantu 40 orang lebih dan akan diteruskan pada hari-hari berikutnya.

Salah satu aktivis mahasiswa asal Nusa Tenggara Barat menceritakan bahawa para pekerja sudah hampir 4 bulan tidak mendapatkan gaji mereka, sehingga para pekerja ini hanya mengandalkan bantuan dari sukarelawan. Cerita sebegini yang selalu kita dengari dari kelompok Indonesia tentu harus menjadi tindakan kolektif bersama untuk sama-sama membantu mereka yang kurang beruntung.

Sikap ambil peduli kelompok aktivis mahasiswa Indonesia ini bagi saya menjadi hal positif untuk memperkuat solidariti dengan aktivis mahasiswa tempatan utamanya di tengah-tengah sikap kebencian yang ditularkan oleh mana-mana pihak terhadap para imigran di Malaysia.

Dalam kondisi pandemik macam ini, memangpun peran mahasiswa yang sebagai agen perubahan, moral, dan juga kepimpinan harus di uji tindakan mereka untuk menolong sesama manusia tidak kisah sempadan apapun seperti perkataan Gus Dur memuliakan manusia berarti memuliakan Penciptanya, demikian juga merendahkan dan menistakan manusia berarti merendahkan dan menistakan Tuhan sang Pencipta. Dengan pandangan inilah, Gus Dur membela kemanusiaan tanpa syarat dan semangat itu seharusnya dimiliki oleh setiap daripada kita utamanya mahasiswa sebagai pewaris dunia generasi seterusnya.

Please follow and like us:
error

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

error

Share supaya lebih ramai tahu berita ini